
Di puisi bermula sebagai Deklamator, Juara Provinsi Riau ( 1990), Juara se Sumatra (1993) Juara Nasional Piala HB Jassin (1996).
Tahun 2009 ia mementaskan puisi-puisinya dengan Spektakuler dan kolosal, di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Mazuki Jakarta, Kolaborasi pembacaan puisi dengan multimedia : Tari, Teater, Musik, audiovisual, dengan nama Konser puisi Multimedia Asrisal Nur.
Menara, pertunjukan puisinya perdana di Teater Arena Pekanbaru (1990), Kuda, di Teater Arena Pekanbaru (1992), Menjalin Waktu, di Taman Budaya Riau (1993), 24 April 2005 menggelar pertunjukan puisinya di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), 26 September 2005 di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta dipenuhi sesak penonton, Pembacaan Sajak Melayu Asia Tenggara di Kepri (2006), Baca Sajak Jalan Bersama di TIM (2006), Baca Sajak Panggung Apresiasi Sutardji Calzcoum Bachri di TIM ( 2007), Baca Sajak Panggung Apresiasi Temu Sastrwan se Indonesia di Jambi (2008), Baca Sajak 100 Tahun kebangkitan Nasional di Wapres.Bulungan Jakarta (2008), Baca Sajak Internasional di Jakarta (2008) Membaca Puisi Poritugal, Indonesia, Malaysia di Universitas Indonesia (2009). Baca puisi Radio Televisi Brunei Darussalam(2010) .
Puisinya pernah dimuat diberbagai media nasional dan Daerah. 2bukunya telah terbit : Dalam Kotak Debu (kumpulan puisi untuk buruh, 1998), Perlawanan Orang Kotak Debu (Kumpulan puisi, 2005) dan Percakapan Pohon dan Penebang (YPM, 2009) dan termuat dalam beberapa antologi puisi antara lain : Kumpulan Sastra Sagang (1996), Kolaborasi Nusantara (Antologi puisi bersama, 2006), Antologi Puisi Nusantara (2006), Rampai Melayu Asia Tenggara (2006), 100 tahun Kebangkitan Nasional ( 2008), Gong Bolong (2008), Kumpulan puisi Portugal, Malaysia dan Indonesia (2008)
Disamping menulis dan membaca puisi, kini mengorganiser budaya di Yayasan Panggung Melayu.Kegiatan budaya yang paling fenomema melaksanakan Pekan Presiden Penyair Internasional 2007, Festival Penyanyi Zapin se Indonesia 2008, Festival Pantun se Asia Tenggara (2008), menciptakan naskah dan menyutradarai Opera Pantun di Taman Ismail Marzuk i(2008). Konser Puisi Multimedia Asrizal Nur (TIM. 2009)
Atas dedikasinya terhadap budaya Melayu mendapat Anugerah Sagang pada kategori Seniman serantau.
Tahun 2009 ia mementaskan puisi-puisinya dengan Spektakuler dan kolosal, di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Mazuki Jakarta, Kolaborasi pembacaan puisi dengan multimedia : Tari, Teater, Musik, audiovisual, dengan nama Konser puisi Multimedia Asrisal Nur.
Menara, pertunjukan puisinya perdana di Teater Arena Pekanbaru (1990), Kuda, di Teater Arena Pekanbaru (1992), Menjalin Waktu, di Taman Budaya Riau (1993), 24 April 2005 menggelar pertunjukan puisinya di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), 26 September 2005 di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta dipenuhi sesak penonton, Pembacaan Sajak Melayu Asia Tenggara di Kepri (2006), Baca Sajak Jalan Bersama di TIM (2006), Baca Sajak Panggung Apresiasi Sutardji Calzcoum Bachri di TIM ( 2007), Baca Sajak Panggung Apresiasi Temu Sastrwan se Indonesia di Jambi (2008), Baca Sajak 100 Tahun kebangkitan Nasional di Wapres.Bulungan Jakarta (2008), Baca Sajak Internasional di Jakarta (2008) Membaca Puisi Poritugal, Indonesia, Malaysia di Universitas Indonesia (2009). Baca puisi Radio Televisi Brunei Darussalam(2010) .
Puisinya pernah dimuat diberbagai media nasional dan Daerah. 2bukunya telah terbit : Dalam Kotak Debu (kumpulan puisi untuk buruh, 1998), Perlawanan Orang Kotak Debu (Kumpulan puisi, 2005) dan Percakapan Pohon dan Penebang (YPM, 2009) dan termuat dalam beberapa antologi puisi antara lain : Kumpulan Sastra Sagang (1996), Kolaborasi Nusantara (Antologi puisi bersama, 2006), Antologi Puisi Nusantara (2006), Rampai Melayu Asia Tenggara (2006), 100 tahun Kebangkitan Nasional ( 2008), Gong Bolong (2008), Kumpulan puisi Portugal, Malaysia dan Indonesia (2008)
Disamping menulis dan membaca puisi, kini mengorganiser budaya di Yayasan Panggung Melayu.Kegiatan budaya yang paling fenomema melaksanakan Pekan Presiden Penyair Internasional 2007, Festival Penyanyi Zapin se Indonesia 2008, Festival Pantun se Asia Tenggara (2008), menciptakan naskah dan menyutradarai Opera Pantun di Taman Ismail Marzuk i(2008). Konser Puisi Multimedia Asrizal Nur (TIM. 2009)
Atas dedikasinya terhadap budaya Melayu mendapat Anugerah Sagang pada kategori Seniman serantau.
Puisi-puisinya :
PUISI
Siapa
tak :
lihat
dengar
baca
akulah : mata, telinga, suara, tanda
sebab :
parau angin
kau tak sampai resahnya
rintih cicit burung
kau tak tangkap lukanya
marah alam
kau tak jera amuknya
maka:
lihat,
dengar
bacalah!
temukan raib hati
kau
Sei Ladi, Tanjungpinang 21Oktober 2009
MAJELIS ZIKIR DEDAUNAN
Pada mulanya
rimba raya sajadah doa
majelis zikir dedaunan
daun rayu ranting berzikir
ranting berzikir
ranting bujuk dahan berzikir
dahan berzikir
dahan panggil pohon berzikir
pohon berzikir
pohon bawa rimba berzikir
rimba berzikir
pohon ajak penebang berzikir
penebang mungkir
tebas
bakar
libas
majelis zikir daunan
jadi padang api
ranggas
kering doa
munazat rimba ditebas penebang
enggan tanam
tak tumbuhkan doa
alam murka
tak kuasa tolak bala nestapa
ketika bencana tiba, ranting kering berkata:
“maaf! kami tak lagi mampu merayu Tuhan
lantaran doa kami terbakar bersama abu daunan”
Bogor, September 2009
PINTU
Di pintu
ada sepatu
tapaknya berdarah
bernanah
tak ada penjaga ramah
cuma pemintaminta
tak ada penawar bunga
hanya penjaja duka
pintu
tak lagi mudah diketuk
bila diketuk
dia mengetuk
bila ditanya
dia bertanya
bila diharap
dia mengharap
bila kau sedih
kau yang diperih
bila kau masuk
kau diluar
kemana pintu
tempat masuk itu?
tinggal jejak
berdarah
bernanah
Depok, September 2009
MATAHARI HATI
Ketika zaman musim kelam
orang –orang bungkus hati
dengan selimut buram
pada musim ini
jalan bersimpang kelam
selalu jebak tapak sama
musim gelap
uji besar cahaya hati
bila redup, gelap tipu pandang
selamatkan hati
nyalakan jadi matahari
tuntun ragam musim
matahari hati pembeda
mana terang
mana kelam
Jakarta, Agustus 2005
BELAJAR DENGAN BAHASA DAUN
Mengapa menara yang kita dirikan
bila kaki terhimpit pilarnya
kenapa bukan bangun kincir
sehingga riak telaga jadi samudra
kita terlanjur suka gemerlap neon ria
sedang kabelnya dibiarkan konslet di gudang jiwa
kota kota adalah gugusan bintang
kita ciptakan dari hati yang kelam
belajarlah dengan bahasa daun
saat hening
bersahabat dengan :
angin, kerikil telaga
burungpun bernyanyi
embun senggayut di rerantingan
belajarlah dengan bahasa daun
bila gugur
tercipta kehidupan baru
Pekanbaru, 1996
DIBUNUH MALAM
Dikejar rajawali waktu
tunggang kuda pagi
pacu perburuan binatang kegelapan
taklukan pertarungan siang
malam nyayian pengembara pulang
banyak pengembara hilang
tergoda rahim panorama rimba
dicumbu bianglala senja
lelap berpeluk maya
malam menerkam
binatang kegelapan hunus taringnya
mega hitam lumat rembulan
lari ? sia sia menabrak kelam
lalu angin penghabisan
bawa berita
pengembara dibunuh malam
Lewiliang, Bogor 26 Pebruari 2005
HIDUP ATAU MATI
Orang hidup
berani mati takut
orang mati
takut hidup takut
lantaran takut
banyak orang mati dalam hidup
lantas purapura hidup
apalah arti hidup purapura
bila sebenarnya diri tiada
Depok, 29 Juli 2005
HIKAYAT ABAD TIBA
ketika abad hijau
air bening , tanah rimbun, langit biru
bumi kebun matahari
moyang hisap
hingga sumsum raya
sisakan dongeng surga
cucu telan remah peradaban
ini ranah moyang
milik anak zaman
lumat diperut nafsu
mengunyah abad tiba
duka masa datang
bukan dosa musim
orang silam gotongroyong
mencuri abad tiba
jika kita ada dimasa datang
akan paham makna
setetes air
sehelai daun
sepercik api
ratapi dosa lalu
Depok, Oktober 2005
REVOLUSI TIKUS API
Mulanya cuil ompong
mainan kucing tidur
asah gigi pisau
pada dengkur cakar kucing
mengendap maling taring
tak ada yang tau
giginya disembilu hari
cakar kucing dingilu mimpi
patahkan taring tikus peluh letih
tak ada yang mau tau
hardik kucing tinggal lenguh
cicit tikus makin riuh
taring runcing kian sembilu
tak ada yang perlu tau
tikus jelma jadi api
bakar :
dapur
buku
palu
waktu
ketika pondasi rumah jadi abu
siapa mampu jadi pemburu ?
Depok, Oktober 2005
TIKUS API
Di negeri tikus api
sulit beda mana tikus
mana kelinci
pencuri dan orang suci
di negeri tikus api
sang pemburu
menembak hati sendiri
Depok, Oktober 2005
KURSI BUNTUNG
Di kursi buntung
Geneva depan gedung damai
aku dipercik rinai salju
muncrat dari tiga kaki kursi itu
keperkasaannya wartakan berita
kursi buntung
meronda hari
kesetiaan adalah pengabdian
duduk di kursi buntung
tak boleh dengkur
ngigau
meracau
mesti kusuk
angin duduk merajuk
di pasar kursi
orang orang berebut kursi
beralas beludru
hitam atau abuabu
kursi buntung tak laku
tak bisa duduk sukasaku :
para pendengkur
bertarung rebut kursi empuk bergincu
Geneva Swiss-Jakarta, 2000-2009
NEGERI PANTUN
( Kepada Tanjungpinang)
Aku saksikan mata air kata
meluap di lafaz pemantun
jiwa berlabuh didermaga kota
dipeluk peradaban negeri pantun
bahkan laut bahkan ikan
riak air dan gelombang
pantai, pasir dan awan
nelayan dan air pasang
air memberi kata ke laut
riaknya berpantun gelombang
gelombang seru bertaut
mengalir pantun di air pasang
air pasang berpantun pada ikan
ikan membalas kata riang
riang kata umpan nelayan
ikan dipancing dibawa pulang
ikanpantun di lahap perut kota
jadikan orang berlidah pantun
tuntun cakap, mematut kata
adat melayu bertuah santun
Tanjungpinang, 2007
JANGAN TANYA LAGI
Jangan tanya lagi
muasal air direguk
bila hujan asal satu langit
laut
gunung
jarak
hanya memisah badan
sedang kalbu dapat terbang dijulang angin
mengantar rindu hati satu
jangan tanya lagi
muasal darah netes
bila tanah
dari satu bumi
tanyakan kemana tujuan?
Ini hari
kita masih berlari dilangkah semula
terseret waktu lalu
dengan dada luka
lantaran letih toreh nama diri
sementara di lebuh raya
kita tak mampu menebak tapak siapa
sembraut mengacak jejak
dulu pernah digores darah
airmata
sudah lama kita ditipu muslihat nanah
berbau darah
sekarang pekikkan kembali
tanah air dengan hati satu
bedakan mana darah
mana nanah
bila kau darah
kemarilah!
bila kau nanah
berambuslah!
jangan tanya lagi
muasal darah netes
tanyakan hati
aku :
darah
atau
nanah?
Depok, 7 Mei 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar