
Kelahiran Jepara-Pantura, Mei 1940. Serius menulis sejak 1970-an sampai sekarang. Karyanya telah banyak diterbitkan (buku kumpulan puisi), tampil solo, duet, dan antologi bersama. DIHA juga menulis dalam bahasa daerah (Jawa ) berupa gurit (puisi), cerkak (cerpen) dan naskah lakon tradisional. Kegiatannya sekarang, baca puisi di berbagai acara, penjurian, apresiasi dan mengelola WARUNG SASTRA DIHA, sebuah komunitas dialog jarak jauh, melayani berbagai ‘urusan hidup ‘ khususnya sastra. Salah satu puisinya :
Elegi Tanah Merdeka
( Kepada yang Lupa Akan Sumpahnya )
ketika langit penuh jelaga
halangi kedip bintang langit barat
jiwa tualangmu jadi badik dan celurit
menyambar nasib orang-orang
yang tiba-tiba mati langkah
di lorong-lorong kemerdekaan
kau ingat ?
sumpah setia berbilang musim ?
tanah air, nyawa yang dipertaruhkan
anak negeri, darah daging kehidupan
yang menuntut cinta dan kejujuran
sementara era bicara lain
orang besar segalanya serba besar
sampai tertutup nurani peduli
lupa semua hanya titipan
Sang Pemberi Kehidupan
tanpa doa pertobatan
hilang makna harta dunia
sementara orang kecil segalanya serba kecil
masa depan tak lebih gigil
hari-hari perjalanan melelahkan
terjebak antara memburu dan diburu
di padang perburuan tanah merdeka
siapa menangisi negeri melati hilang wangi ?
Cimanggis, 2003 – 2004
Maha Hamparan
di sehampar bentangan semesta serba maha
ada undakan kesetiaan para petani
semua menanam bijihbijih pengharapan
di semilir angin pada angkasa serba raya
tercipta kedamaian buih angan masa datang
tentang pemanjat pohon kelapa
penugalpenugal tanah kasar yang landai
apa yang diinginkan awan
ketika mendung mengantarkan halimun
pekat aroma asap
hutanhutan terbakar
gemunung mati ditinggal zaman bergerak
deras sungai masih dapat kurasakan
ketika air membawa kail pemancing
hanyut bersama batubatu
mereka masih menyisir jejak lokomotif
rel tua berabadabad
karat melamurkan kenangan
di sana,
gegap gempita terdengar
pekikpekik kemerdekaan
lindap pegunungan mengakar masa
SudutBumi, 2005
Kidung dari Rumah Panggung
dibangun dari kayu hitam hutan sisa
peradaban, teritisan batu granit
mampu sembunyikan bermusim rasa sakit
pagi serap bias matahari sisa gerhana
malam serap embun dan hujan asam
sesiapa di dalam
masih harap lusa ada perubahan
sementara anak-anak telah pandai
naik turun di tangga rumah panggung
menebar tawa di udara
menyapa matahari ?
memanggil angin ?
atau mendengar kidung aneh
yang setia mengusap-usap atap
setiap ganti musim
makin terdengar aneh
tulang dan kidung makin melengkung
Cimanggis, 2005
Tidak ada komentar:
Posting Komentar