
Lahir di Jakarta, 31 Desember 1985. Bergiat di Komunitas Rumput dan Majelis Sastra Bandung (MSB). Kini tengah merampungkan studinya di Jurusan Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati Bandung sambil terus mengasah menulis puisi dan prosa. Puisinya singgah di antologi “Empat Amanat Hujan” (DKJ, 2010) dan cerpennya dalam antologi “Bersama Gerimis” (MSB, 2011).
Alamat : Jl. Merkuri Utara VIII No.1 Margahayu Raya, Bandung
Email : restu_freedom@yahoo.com
Telepon : 085781660989
Alamat : Jl. Merkuri Utara VIII No.1 Margahayu Raya, Bandung
Email : restu_freedom@yahoo.com
Telepon : 085781660989
KERENCENG, 1
-pasukan rumput
semestinya kami beterbangan
di kaki bukit kami menyiapkan perbekalan
namun tak ada yang lebih kekal ketimbang kenangan
kami membentak-bentak malam. menyingkirkan dahan. di mata kami hanya ada puncak
dan kami tahu cuaca yang agak pucat adalah sebagian yang
kami sebut perjalanan. semak-semak melilit kaki. pacet bergelayutan di kaki kami.
lalu kami bagai ular berduyun-duyun mengendap ke bawah rimbun rasamala.
berjumpalitan. menahan beban yang patah di punggung kami. dan selebihnya
hanya tangkai ilalang yang basah.
kami tak paham dengan perjalanan jauh dan panjang
yang kami mengerti bagaimana kami mengisahkan perjalanan ini
di bawah kabut, di tengah tanah yang kadangkala
bisa membuat mata kami gerimis saat mengingatnya lagi nanti.
O, bukit bukit yang menjadi harapan kami, semestinya kami beterbangan.
pergi. dan tak lagi melihat kenangan.
mei 2011
KERENCENG, 2
--haryanah
sebelumnya aku tak mungkin
menulis perasaan yang paling dingin
dengan tangan ditembus hujan.
daun-daun pun tak bisa kujadikan kertas.
namun malam itu, dengan hati paling gerimis
tiba-tiba tubuhku menyala, bulan yang tadinya
pucat tiba-tiba purnama. dahan rasamala yang
merimbun di sepanjang lereng kemudian
rubuh. aku bagai hendak melumat bibirmu
dan mengekalkannya di lereng ini.
O sayang, api rinduku biarlah berkobar di sepanjang hujan!
dan hujan yang sedari tadi turun bagai serdadu itu
biarlah mengental. aku menyaksikan air coklat tua luruh
menyusur tanah bagai bah. air apakah ini. aku ciduk air-air yang luruh itu
dengan tangkai puspa, lalu tetap saja aku tak bisa menulis rindu.
tak ada lagi yang membekas padaku
kecuali wajahmu yang menyala di puncak ingatanku.
mei 2011
di negeri ini, negeri puisi
hidup begitu panjang
di negeri ini, negeri puisi
setiap anak bebas bertanya
dan mencari jawab sendiri sendiri
tanpa harus takut
seorang ayah atau ibu mengurungnya
di kamar mandi
dan hidup begitu panjang
di negeri ini, negeri puisi
kita bisa mengucap cinta
pada siapa saja. bisa menyayangi
apa saja. membiarkan hidup kita terberai
dan hanyut oleh senyum tawa
seorang kekasih
atau perempuan yang sengaja
tak kita cintai. lalu kita mabuk
dan hidup makin panjang
usia kita memanjang
dari cerita cerita
seputar kegelisahan. tentang sakit
dan nyeri
di negeri ini, negeri puisi
kau dan aku
sepertinya sedang sama berjalan
bagai kurcaci di pantai sepi
kaki kita memanjang
tak berbatas
tak bertepi
lalu kita seperti anak kecil
yang saling bertanya, saling menyanggah,
dan mencari jawab
tanpa harus takut
siapa pun akan mengurung kita
di negeri ini
negeri puisi
januari 2011
sehabis dari manggarai
mulai malam ini
aku belajar menulis surat
undangan kematian
dan mengirimnya pada rumah,
gubuk-gubuk pinggir jalan,
pada lelaki renta
dan tongkatnya yang tua
mungkin nasib semacam angin malam
yang riuh dan berisik mengepakkan sayapnya
menabrak kaleng,
mengetuk tiang-tiang,
kemudian mengganggu tidur
para sopir di terminal
jarum jam bagai kopi hitam
yang selalu membuat mata
tegang dan terjaga
sementara aku
kembali lagi belajar
mengirim undangan
khusus kepada ibu
yang sedang merebus batu
yang tertawa senyum-senyum
dengan bahagia
memerhatikan anak semata wayangnya
melilitkan tali di lehernya
lalu dengan penuh damai
mereka merayakan
makan malam bersama
tanpa lagu-lagu, tanpa nyanyian
dikelilingi anjing-anjing liar
yang lapar. matanya bengis.
mungkin nasib semacam angin malam
yang menendang kardus-kardus
menerbangkan koran-koran
mengapungkan harapan
2011
seperti dendang ujang
ujang, ayo dendangkan lagi
nasib masa depanmu! seru angin
dan riuh lautan kota.
lalu sampai ke mana kau akan mengejar matahari
sedang emakmu rikuh menunggu masakan hari ini
mirip senar gitar yang kaupetik keras sekali sampai merintih
emakmu perih melangkahi tanah kering penuh matahari
menanti ujang kapan datang. emak ingin memasak nyanyian
kesukaan ujang. sebab emak senang ujang telah bisa menciptakan
hari hari sendiri tanpa bantuan angin pagi
setelah lagumu garing ditelan angan-angan
kau diami malam sunyi serupa kamar idaman
yang kautata di pinggir kota laksana rumah baru
padahal kalau kau suka kau masih bisa berbaring
di lobi gedung itu meski ranjang dalam kamar
mengharamkan tubuhmu untuk sekadar terkapar
hanya karena lebih baik kau terbakar atau mati kedinginan
baiklah ujang, lebih baik emakmu tak perlu tahu
bahwa malam ini kau mengumpulkan banyak nyanyian
untuk emak masak bulan depan
tak perlu tahu pula kalau kau lelap semalaman
di depan loket kantor bis malam
2009
tentang sajak muram yang hilang di hilir sungai
dan ricik air mengantarkan ceritanya padaku
sebuah sajak muram yang hilang di hilir sungai di seberang pulau
di sore yang mendung sebelum gerimis hujan
walau bagaimana pun, walau langit murung, aku harus membacakannya
untukmu, sajak-sajak itu:
/beberapa larik untuk kau yang mendung di sore hari
wajahku dibelai belai angin
dan rambutku bergoyang sendiri
tapi tanganku tetap kaku menuliskan airmata
untuk kuhadiahkan
kepadamu
padahal waktu sebentar lagi padam
dan cahaya senja segera tenggelam
haruskah aku
membongkar airmataku sendiri
untuk kuhadiahkan
padamu
agar kau bisa percaya
bahwa aku telah tiada dari tempatmu berdiri
seperti kau melihat maut
menikamku
puluhantahunlalu
sementara langit terus mengirim gerimis
dan angin semakin mengumbar badai
---dari ujung jalan itu tubuhku koyak
kemudian rubuh!
/puisi yang lahir dari airmatamu
--culaiha
dari tanganku tak saja lahir puisi
tapi juga airmata dan beberapa luka
karena dari depok ke kalibata
aku meninggalkan engkau
dengan tubuh derita
--lampu lampu padam
cahaya bulan pudar
dengan kesendirian dan tubuh gemetar
aku terlunta menyusuri sudut malam
pintu pintu stasiun
dari gerbong ke gerbong
puisiku lahir, airmataku lahir
kertas kertas beterbangan
mereka berjalan-jalan sendiri mencarimu
menemuimu di tengah kota, tengah terluka
sedang menatap bulan
dengan mata gerimis
dan hujan
sementara dari tanganku,
lahirlah engkau
memanggil manggil namaku
berulang-ulang, bersahutan
dengan suara senyap ditelan udara malam
kemudian hilang
/sajak yang akhirnya hanyut di alir sungai
aku hanya menjadi bayang bayang
puing puing tubuhmu yang hancur digilas malam
berantakan
ingin rasanya membentangkan tangan
kemudian memeluk angin
mencium bau rumputan
menghirup harum gunung
memandang pohon pohon
yang gemetar digoyang semilir
ingin rasanya memburai burai tangis
ke dalam lautan yang mengalir dari hilir hilir
sungai
sampai aku benar benar bisa melihat wajahmu
dari warna pelangi yang benderang
dari genangan air yang mengucur ke lembah lembah
airmatamu
lalu tersenyum padaku
ingin rasanya aku berputar putar membentuk telaga
menjadikannya muara setiap kesedihanmu
menjadikannya gerak daun daun dan ranting di bukit jauh itu
menjadi milikmu
hingga jikalau daun daun dan ranting pohon itu jatuh
ke arus sungai yang mengalir dari hilir hilir bukitmu
maka aku akan terbawa hanyut ke dalam alir sungai kesedihanmu
yang pedih dan dalam.
2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar