
Sigit Rais
Episode Kelahiran
1983-kelahiran senyum ranum-
tangan-tangan takdirlah yang memisahkan Nakula dan Sadewa. O, garis nasib dipucuk mimpi, perpisahan mereka terlalu dini.
“bunda, aku pergi. Jangan galau masih ada saudaraku tertanam di istana rahimmu”
o, ada senyum ranum di gumpal darah merah. Tetesan beku itu berkata-kata tentang pisah yang akan berbalas pertemuan. Suatu saat nanti
langit dipayungi sayap bidadari.
di situ ada rintih sakit seorang perempuan yang
telah menyempurnakan keperempuannya
kedatangannya adalah gempita cinta di
mata bunda. Timang sayang, o, lelaki suci di pematang pagi
berselimut ribu-ribu mimpi, bertahta cahaya di altar sarat do’a
timang sayang, o, lelaki suci di pematang pagi
lihatlah, di situ ada jalan setapak. Jalan sunyi yang diarungi sendiri
o, lelaki suci di pematang pagi
“jangan pergi sendiri!”
o, lelaki suci di pematang pagi, pergi sendiri bersama empat matahari
kematian terlalu dini, lelaki berwujud mimpi!
malam datang bersama malap cahaya bulan mati
perempuan itu kini ditikam sunyi
“anakku telah pergi.”
adakah senja jadi saksi pasti atas kedatanganku di riuh hari?
ingatlah!
di situ ada rintih sakit seorang perempuan yang
telah menyempurnakan keperempuaannya
sebagai ibu atas benih lelaki sehidup semati
muncrat keringat campur darah hebat di ketegangan urat
tangis menyengat penat; ini saat yang tepat, saya yang dinanti
“anakku telah kembali!”
mereguk cinta bunda dari perempuan bermata permata
astaga, bayi itu tak lagi jadi bayi
“jangan pernah pergi lagi !”
o, belahan jiwa bunda. Di mata itu ada prasasti semesta jiwa
segala penjuru adalah padanya. O, belahan jiwa bunda
bidadari bunga menari di galau hati. Ingin dicinta dan mencinta
“jangan pergi, tetap di sisi”
serak seorang bunda saat beranak.
Hai ingatlah!
telah menyempurnakan keperempuanannya.
“kembalilah menyemai benih cinta bersamaku
agar tumbuh menjadi bunga di sepanjang hidupku”
senyap malam membungkus kemukus, wahai penina-bobo malam
sudah hampir pagi. Di tengah rasa sakit yang tak bisa ditawar lagi
lelaki sehidup semati datang torehkan arti
o, bibir pagi yang jadi saksi pasti
d itu ada rintih sakit seorang perempuan yang
telah menyempurnakan keperempuanannya. Ibu semesta jiwaku
Allahu Akbar...Allahu Akbar...Allahu Akbar...
“ini cinta adalah nyawa dari ikatan kita
jadilah matahari yang terbit di mula hari!”
bunda, kami ingin selalu di sisimu
14/12/05


0 komentar:
Poskan Komentar